Jumat, 21 Februari 2014

Seminar dan Pencarian Bakat di Google Day

Leave a Comment
Google Inc salah satu perusahaan raksasa teknologi dalam waktu dekat ini akan menyambagi Ankara Turki. Kali ini mereka akan mengadakan Google Day dengan Tema "Cool Things That Matter". Acara yang bekerjasama dengan kampus METU Ankara ini akan diselenggarakan pada tanggal 11 Maret 2014, dengan dua acara inti, yakni Google Cultures & Careers dan CSI (Creative Skills for Innovation). Melihat tajuk acara tersebut, bisa dipahami bahwa program ini juga menjadi ajang pencarian bakat oleh google, So siapakan CV anda dan jangan lewatkan acaranya.


*) Pendaftaran dibuka sampai tanggal 4 Maret 2014. Terbuka bagi Umum. Registrasi : goo.gl/SvrhwW

Baca juga, beasiswa mengenai beasiswa Tubitak disini : Beasiswa Tubitak Turki 2014

Read More...

Minggu, 22 Desember 2013

Kuliah Online I-4 | Etika Penelitian Pada Manusia

Leave a Comment



Kuliah Online I-4 dengan tema Etika Penelitian Pada Manusia oleh Dr. Teguh Haryo Sasongko dari Human Genome Centre School of Medical Science Universiti Sains Malaysia. Kuliah online ini diadakan pada hari Sabtu, 28 Desember 2013 pada Pukul 09.00 - 11.00 WIB. Jangan lewatkan kuliah online i-4 nya.

Kuliah online-nya dapat didengarkan melalui radio PPI dunia melalui link ini
Read More...

Berhentilah Menjadi "Gelas"

Leave a Comment
Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.”Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis. Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

“Sekarang kau ikut aku.”
Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka.
“Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.
“Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan gurunya, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”"Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumberair di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang ersisa di mulutnya.
 
 “Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”"Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.Hanya segenggam garam.

Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah.
Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”Si murid terdiam, mendengarkan.
“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya.

Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau.”

** nasihat yang berguna buat kita renungkan.. mari menjadi pribadi yang bisa melihat dengan mata hikmah disetiap kejadian.

SEMANGAT..!!

Read More...

Membuka Dunia dengan Bahasa 2.0

1 comment
Rekan-rekan pelajar!, apa kabar?, how are you? nasıslsın? كيف حالك ? Ogenkidesuka? eotteohge jinae? comment allez-vous ? come stai? wie geht es dir? Kak pozhivaete?. Mudah-mudahan sehat dan tetap luar biasa semuanya. Kalau ada yang mau menjawab selain dengan bahasa Indonesia juga boleh.

Bahasa Membuka Pintu Dunia

Apa yang terpikirkan oleh teman-teman semua seandainya seseorang menyapa anda dengan beberapa dari kalimat awal diatas dan menjawabnya dengan lancar seperti halnya berbicara dalam bahasa ibu atau bahasa daerah masing-masing? Kebanggaan tersendiri pastinya ada, lebih jauh lagi masalah miss komunikasi tidak akan terjadi.
 
Tetapi rekan-rekan ada hal yang menurut saya punya nilai tambah ketika kita belajar dan memahami bahasa asing. Tidak hanya untuk keperluan daily communication saja atau untuk menambah teman asing di Facebook. Pengetahuan bahasa asing dapat membantu kita menambah dan memperluas perbendaharaan pengetahuan dan pola pikir kita, selain itu juga belajar kebudayaan bangsa lain. Bagaimana caranya?yang paling mudah adalah membaca. Baik buku, artikel, jurnal, ataupun bentuk tulisan lainnya dengan versi bahasa aslinya.

Bahasa adalah cerminan karakteristik manusia. Kecakapan dalam berbahasa sejalan dengan sejauh mana seseorang menggali karekternya dan mencerminkan pemahamannya dalam pengetahuan. Tidak kita pungkiri pemahaman bahasa asing asing disamping bahasa Ibu telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita saat ini.

Bahasa asing, dalam keseharian kita sekarang sudah menjadi hal yang lumrah. Sebut saja bahasa Inggris, Di negeri Indonesia, bahasa ini bahkan sudah diajarkan semenjak Sekolah Dasar hingga ke Perguruan Tinggi, dengan dalih Era Globalisasi. Sedikit banyak kata-kata baru dalam Kamus Bahasa Indonesia kita, juga telah banyak menyerap dari bahasa Inggris. Sebagian orang bahkan menyebut Bahasa Inggris bukan lagi bahasa yang asing.

Adakah kerugian dari menguasai bahasa Inggris? Kalau bisa saya bilang potensi positifnya lebih besar dibandingkan pontensi negatifnya. Belajar bahasa Inggris tidak serta merta membuat sesorang kebarat-baratan. Bahasa Inggris telah menjadi salah satu bahasa dunia dan bahasa ilmu pengetahuan. Ribuan hasil penelitian, teori dan penemuan-penemuan terbaru, buku-buku lintas disiplin ilmu, dikemas dan diterbitkan dalam bahasa Inggris.

Jika kita mengedepankan ego nasionalisme kita untuk hal ini, mungkin kita akan menunggu puluhan tahun hingga semua karya-karya itu di terjemahkan dalam bahasa kita dan kemudian mengambil manfaatnya, tetapi kalau kita bisa mengakses dan memahami lewat versi bahasa aslinya, informasi dan pengetahuannya bisa lebih cepat kita dapatkan.

Membaca membuka pintu-pintu dunia. Dalam pepatah bahasa Turki disebutkan “Çok okuyan çok bilir”, dalam terjemahan bebasnya “Orang yang banyak pengetahuan adalah orang yang banyak membaca”. Tentu kita sepakat dalam hal ini, barangsiapa yang giat membaca maka pengetahuannya juga ikut bertambah.

Apalagi kalau pustaka bacaannya tidak hanya yang terdapat dalam bahasa ibunya. Iya kan?bayangkan teman-teman, sebagai contoh kalau anda membaca novel berbahasa inggris sama baiknya dengan membaca novel berbahasa Indonesia. Mungkin kita dapat mengakses beberapa karya penulis ternama yang buku-bukunya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, tetapi masih ada ribuan karya diluar sana yang bisa kita pahami secara instan jika kita punya pemahaman bahasa aslinya. Bayangkan lagi jika teman-teman senang dengan Sejarah Dunia, jika kita menguasai bahasa Arap, mungkin teman-teman bisa berkelena dalam masa-masa sejarah kejayaan Islam, abad-abad awal penemuan sains modern, hikmah-hikmah kehidupan para nabi.

Atau mungkin ingin menjelajahi sejarah Kesultanan Ottoman yang berdiri selama 600 tahun, sejarah penaklukan Konstantinnopel, bahasa Turki bisa mengantarkan kita ke sana. Atau teman-teman yang ingin mengetahui permasalahan politik dunia dari masa ke masa, bahasa Rusia, bahasa Mandarin, bahasa Spanyol, ataupun bahasa Jerman bisa memberikan pengalaman unik tersendiri. Atau ingin mengetahui secara mendalam sejarah bangsa kita sendiri, banyak literatur berbahasa Belanda yang menyimpan potongan-potongan sejarah kita yang mungkin belum bisa kita temui terjemahannya. Pada intinya masing-masing bahasa punya warna tersendiri terutama dalam pustaka literaturnya. Sejauh mana kita menguasai bahasa-bahasa tersebut dan mengambil manfaat darinya sejauh itu pula kekayaan pengetahuan kita.

Orang-orang di wilayah Asia Tengah, India, dan Afrika, setidaknya bisa berbicara dalam 2 atau 3 bahasa asing. Saya mempunyai kenalan orang asli Persia, yang menguasai 6 bahasa asing yang menguasainya sama baiknya seperti bahasa ibunya. Sungguh beruntung mereka jika menggunakan kecakapan bahasanya untuk terus menambah pengetahuannya dan memberikan hal yang bermanfaat bagi orang lain. Begitu pula pemuda-pemuda bangsa kita pasti bisa melakukannya, sejalan dengan menjaga bahasa daerah kita, cakap menggunakan bahasa persatuan kita, yakni bahasa Indonesia, disamping itu juga sangat perlu untuk menguasai bahasa asing, tidak hanya bahasa Inggris, bahasa-bahasa lainnya juga bisa menambah khasanah pengetahuan kita terutama di era globalisasi saat ini. Tetap belajar untuk perubahan.

note: ada satu portal internet untuk belajar bahasa dunia secara gratis, bisa diakses disini : www.livemocha.com
 
Oleh : Andry Nur Hidayat (http://pojokturki.blogspot.com)
Read More...